Monday, November 06, 2006

SAJAK SAJAK PAGI
tenri angka


I
tak ada nasi goreng atau secangkir kopi
tempat tidur jauh dari rapi
dengan dengkur kulewati pagi
mimpi semalam kucicipi kembali
yang terpenggal adzan subuh, tadi

II
kau lewati pagi dengan secangkir kopi
tempat tidur jauh dari rapi
mimpi malammu terkunci dalam laci
dengan syahdu kau resapi sebuah puisi
tentang kekasih yang pergi bersama subuh, tadi

III
sepiring nasi goreng menemaninya melewati pagi
tempat tidurnya terlihat begitu rapi
semalam dia tidak tidur apalagi mimpi
di tempat tidur kekasihnya dia tulis puisi
dia baru tiba ketika subuh, tadi


Penulis tukang massure' i lagaligo

Thursday, October 26, 2006

PORNOGRAFI DAN KEBANGKUTAN SEKSUAL
Arief Gunawan SR


PORNOGRAFI adalah suatu fenomena yang selalu memiliki sisi kontroversial. Dibenci sekaligus dicari. Ia ditemukan dimana saja, di sekitar kita, mulai dari koran, majalah, tabloid, televisi, papan iklan, baliho, kalender, sampai internet. Sisi kontroversial pornografi kembali dipolemikkan ketika majalah ‘Playboy’ edisi Indonesia rencana akan diterbitkan secara perdana. Mungkinkah ini merupakan titik klimaks dari proses evolusi tanpa sadar membuncahnya bahan-bahan pornografi atau pengetahuan yang berkelebihan tentang seksualitas.

Secara tidak sadar kita adalah penggemar pornografi. Sebab tiap hari kita dijejali dengan penanda-penanda pornografi yang salah satunya dilesatkan oleh industri media yang berkolaborasi dengan kekuatan produksi. Ini adalah salah satu ciri dari perkembangan masyarakat postmodern, di mana seksualitas dijadikan sebagai dimensi utama pertukaran dalam masyarakat (konsumsi). Sehingga seksualitas hadir sebagai objek dan pesan-pesan yang dikomersialkan secara implisit bahkan eksplisit.

Sebenarnya apa definisi dan tujuan pornografi? Dan mengapa sesuatu dikatakan porno? Dari pihak antipornografi dan sebagian pihak propornografi menganggap bahwa tujuan pornografi adalah “untuk melakukan stimulasi atau dorongan seksual yang diikuti oleh pelepasan seksual”. Lalu kwalitas apa yang dimiliki oleh suatu objek atau pesan yang dianggap porno mampu menimbulkan dorongan seksual? Kita tahu, dalam konteks masyarakat tertentu beberapa bagian tubuh yang dianggap porno berbeda dengan pandangan masyarakat lainnya yang justru menganggapnya porno. Maka terjadilah pro dan kontra tentang batas-batas pornografi.

Wacana pornografi sebenarnya memiliki ruang lingkup kajian teoritik yang cukup rumit. Tentang beberapa peristilahan yang kabur dan sering tumpang tindih seperti erotika, kecabulan, seks, nafsu/hasrat, libido, rangsangan, berahi dan porno atau cabul. Sehingga esai pendek ini tidak mungkin mengupas secara mendetail luasnya wacana pornografi. Aksentuasi tulisan ini hanya diarahkan pada: pertama, mengungkap bagaimana strategi erotisasi dalam pornografi, kedua, efek sosiologis yang ditimbulkan pornografi, dan ketiga masa depan seksualitas manusia di tengah gempuran pornografi.

Membicarakan pornografi memang tidak bisa dilepaskan dari dua hal yakni seksualitas dan tubuh. Keduanya terjalin dalam pemaknaan yang saling mengisi. Seksualitas tidak mungkin lepas dari tubuh atau sebaliknya tubuh akan selalu dilihat sebagai identitas seksual, pria dan wanita.

Ada satu hal yang cukup dipermasalahkan dalam pornografi (seperti yang dituduhkan oleh kaum wanita atau aktivis feminis dan masyarakat umum) bahwa materi atau bahan pornografi lebih banyak ditujukan untuk konsumsi pria. Dan posisi wanita tentu saja lebih dominan dalam bahan-bahan pornografi, sehingga wanita selalu dipandang sebagai objek seks semata. Di sinilah mengapa tubuh wanita perlu dianalisis mengenai batas dan kwalitas yang dikandungnya.

Erotisme dan Tubuh
Tak banyak yang tahu mengapa tubuh wanita bisa begitu erotis, merangsang dan menggoda. Ada suatu keanehan di dalamnya. Yang mereka (baca:laki-laki) tahu, godaan itu seperti magnet yang akan manarik siapa saja yang mendekat. Jadi, dalam mekanisme godaan ada tarikan yang lebih kuat dari penggoda kepada yang digoda. Magnet penggoda adalah nilai erotik atau rangsangan yang dikandungnya. Bahkan, pandangan di atas bisa terbalik, bahwa ternyata tidak ada erotika dalam tubuh wanita. Benarkah?

Ada dua contoh kevulgaran tubuh yang bisa kita identifikasi memiliki dimensi erotik yang berbeda. Yang pertama foto nude (pornografi) Tiara Lestari pada sampul majalah Playboy terbitan Spanyol secara eksplisit, dan kedua foto beberapa wanita suku Dani (salah satu suku di pedalaman Papua) yang ditampilkan tanpa memakai penutup dada di koran Kompas (18 Des 2005). Penilaian terhadap kedua bentuk ekspresi tubuh tersebut kemudian terkonstruksi secara sosial sebagai penanda-penanda erotik dan non erotik.

Eksplisitnya ‘buah dada’ Tiara Lestari di majalah Playboy terkonstruksi secara seksual dan pornografis karena itu dipermasalahkan oleh latar belakang alasan normatif ketimuran, dan dibentuk oleh media yang di-stereotipe-kan sebagai media pornografi. Sedangkan foto telanjang wanita suku Dani tidak dianggap sebagai materi pornografi mungkin dengan alasan karena ‘mereka lebih dekat dengan alam’ atau belum ter-seksualisasi dan ter-erotiskan.

Nah, pada sisi ini, strategi erotisasi tubuh terjadi melalui dua tipologi yang saling berkaitan: pertama, seperti yang diungkap oleh Sigmund Freud bahwa “tubuh yang tertutup yang menuruti tuntutan peradaban masyarakat akan selalu mengundang keingintahuan seksual dan berfungsi sebagai daya tarik objek seksual dan berfungsi sebagai suplemen daya tarik seksual melalui tindak penyingkapan bagian-bagian tersembunyi”, dan. Kedua, bahwa erotisasi dibentuk melalui proses penciptaan diskursus atau wacana yang membentuk makna dan pandangan seksualitas. Di sini ‘kuasa’ bekerja membentuk prosedur larangan dan hukuman, mana yang cabul/porno atau tidak.

Dari kedua bentuk tipologi di atas, secara umum dianggap bahwa strategi perangsangan pada materi pornografi terjadi pada bagian tubuh yang dianggap sebagai zona erotik atau wilayah yang merangsang dan terlarang. Dan kita perlu memandang bahwa pornografi tidak hanya berisi materi yang mempertontonkan secara eksplisit (vulgar) bagian dari zona terlarang tubuh, tetapi juga materi implisit yang mengekploitasi nilai erotisme bagian tubuh lainnya seperti wajah, paha, perut, pinggang, ataupun tangan untuk konsumsi massal.

Kematian Tabu dan Masa Depan Seksualitas
Dalam tabu, ada prosedur larangan untuk menjaga kesucian dan pelanggaran atasnya akan berbuah dosa. Sebagai tabu, seksualitas selalu dimuati oleh makna kesakralan. Dan tubuh dalam etika religius (seperti dalam agama Islam) adalah tubuh yang dibingkai larangan ini dan itu. Di mana pada bagian tubuh tertentu ditabukan dan dianggap sebagai ‘aurat’. Dengan kata lain aurat adalah suatu strategi penyingkapan dan penyembunyian tubuh. Tubuh yang dimuati larangan.

Jika dihubungkan dengan analisa Freud, tabu jelas merupakan sebuah strategi erotisasi tubuh yang dipelihara dalam ruang intim dan privat. Tapi kini, tabu mulai disingkirkan secara perlahan oleh ‘kekuatan produksi dan konsumsi’ dan mengalami kebangkrutan ‘makna’. Sedikit demi sedikit tabu makin tergeser dalam limit (batas) paling minimalis dari tubuh. Bahkan yang tersisa (baca: sebagai aurat) hanyalah alat genetalia dan buah dada pada wanita.

Berbeda dengan tabu, kekuatan pornografi yang tidak mengenal aurat justru mengeksplorasi bagian-bagian tubuh tertentu tanpa batas. Selalu berusaha menciptakan dimensi-dimensi baru seksualitas manusia dalam bentuk pose atau gaya dan teknik pengambilan gambar. Sehingga eksplorasi tanpa henti bagian tubuh justru berpotensi besar menumpulkan dimensi seksualitas manusia. Ke-erotikan tubuh makin kabur dan seksualitas mengalami kebangkrutan makna. Mungkin suatu saat ketelanjangan tidak dipermasalahkan dan kecabulan tidak ada lagi di rimba raya peradaban modern.

Penutup: Fashion dan Pornografi
Pornografi adalah suatu fantasi nyata. Yang mencairkan kebekuan realitas nyata dan imajinasi. Salah satu bentuk representasi pornografi ditemukan dalam kenyataan ‘fashion’. Di mana kecantikan funsional dalam fashion tidak lain dari erotisme tubuh yang dijual. Yang dipelihara fashion terutama fungsi seduktif (godaan) tubuh dan narsisisme wanita.

Titik persamaan antara fashion dan pornografi terletak pada dimensi erotisme yang mereka jual. Bahkan ada kekaburan batas antar keduanya. Yang kita tahu, fashion tidak ingin jatuh ke dalam pendefinisian cabul dan seronok seperti pornografi. Tetapi keduanya memiliki fungsi seduktif, sehingga kenyataan fashion dengan erotisme dan kecantikan yang dijual adalah simulasi nyata dari tindakan pornografi (pornoaksi).Pandangan masyarakat tentang masa depan pornografi dan seksualitas mungkin bisa diramalkan dengan tepat di tengah realitas serbuan kebudayaan postmodern. Akan sampai pada situasi nihilis yang siap meluluhlantakkan tatanan moral. Sekarang semuanya tergantung pada tiap individu untuk bersikap pro atau kontra dalam diskursus ini. Terakhir, kita perlu akui bahwa, pornografi itu ada, di sekitar kita, dan anak-anak kita sedang diajari menjadi penggemar pornografi. Sadar atau tidak.
Penulis adalah pengajar di Taman Akademia

OMBAK GILA
djido’s wasiah alam nyinga laha


Subuh di teluk ini
Ombak menunjukkan marah gilanya
Di dinding tembok penahan
Lantaran kreatifitas harga dirinya

Di pelataran penjemputan ini
Ombak melompat dalam riang gilanya
Lantaran gairah pantai memahami kegilaannya

Bisikan dermaga diatas ombak yang gila
Sitidak waras melompat lenggak lenggok
Kain kafan ditangan terlambaikan angin
Sadar gilanya berseru
Wahai ombak yang menggila
Kembalikan….kembalikan….. bukan permata
Tapi sebutir pasir yang kau renggut
Pasir disana sudah terbalut dendam, dengki dan nista
Tempat mereka membayangkan kepongayahannya

Kembalikan sebutir pasir yang kau rebut
Dunia menjadi gulita karena bulan merajuk
Bintang tidak mau lagi meminjamkan pelitanya
Mataharai gusar dengan bakarnya

Aku hanya menuntut……………..
Kembalikan sebutir pasir yang kau mangsa
Kembalikan sebutir pasir keasalnya
Pasir disana sudah terbalut dendam dengki, dan nista

Kembalikan sebutir pasir yang kau rebut
Agar hujan menyiram kembali hati dunia
Agar angin mendetakkan kembali jantung dunia
Agar kau tidak lagi dimusuhi lautanmu
Agar bunga merekah kembali rembulan

Sang tidak waras melompat lenggak-lenggok
Dengan kain kafan ditangan
Sambil tertawa menyindir ia berseru
Sahabatku, sahabatku telah tercerabut
Sahabatku, sahabatku telah tiada
Sahabatku, sahabatku telah sekarat
Sahabatku, sahabatku telah keparat
Karena jiwanya dirasuki rohy setan gila
Karena hatinya dicuri anjing gila

Mandar, 06 Juni 2005

Penulis adalah penulis di Catatan Semesta


Laila, Oh Laila…
tenri angka



Makin hari, aku makin merasa bahwa Laila kekasihku bukanlah perempuan biasa. Dia adalah penjelmaan malam, bukankah malam merupakan kekasih abadi yang akan menyelimuti siapapun yang masuk dalam peraduan bersamanya? Lihat bulu mata Lailaku yang lentik, lesung pipinya yang menarik, serta bibirnya yang terukir indah adalah anugerah alam yang membuatku menjadi demikian tenang berada dalam peluknya.

Bersama perempuan Laila, aku berani untuk mengakui bahwa lelaki tidaklah haram berairmata. Dalam remang dan temaram senyumnya, dia mampu menyamarkan sedihku yang berkarat. Dalam gelap rambutnya yang pekat dia mampu menyimpan wajah senduku dengan rapat. Lailaku, sebagaimana malam, memiliki hati seluas alam dan jiwa sehamparan semesta. Dia mampu mendengar dengan tabah luapan keluh dan limpah ruah kesahku.

Tentu kalian meragu dengan begitu istimewanya Laila di mataku, tapi bukankah seorang kekasih memang begitu berarti bagi seorang pecinta? Begitupun aku memperlakukan Lailaku, aku merasa Tuhan telah begitu sempurna menciptakan Laila, bahkan mengangkatnya menjadi ciptaan kesayangan. Siapapun yang ingin dekat dengan Tuhan, haruslah merapat ke dada Laila, dada kekasihku.

Memang pernah juga terbersit lintas ragu dalam hatiku yang rawan terhadapnya, tapi dia menjawab keraguanku dengan gumannya,
“Keraguan yang mendera hatimu memang hal yang lumrah hai pencari, tapi seharusnya was-was seperti ini tidaklah pantas muncul dalam sanubari mereka yang mencintai kalam Tuhan”.
Aku terperangah mendengar tuturnya dengan suara yang bergetar,
“Wahyu suci, bahkan diturunkan oleh Allah melalui rahim Laila yang mulia, kekasihmu ini”. Lanjutnya.
“Jangan mengada-ada seperti itu kekasihku. Cukup! Aku percaya padamu, tapi jangan sampai kau berdusta atas nama Tuhan untuk meyakinkanku”. Raguku menggantung di udara.
“Tidak!!” Seru Lailaku, “Kebenaran ini harus kau ketahui, aku adalah Laila Al Qadry. Kau pernah mendengarnya? Gelar yang disematkan oleh Tuhan di dada perempuan mulia kekasihmu ini, seumpama malam yang lebih mulia dari seluruh malam”.

Laila Al Qadry perempuanku, ya demikianlah aku memanggilnya kini, bukan hanya menjadi ibu bagi kalam suci, tapi dia juga menjadi ibu bagi kelahiran para malaikat di bumi ini. Inilah yang membuat aku menjadikannya begitu istimewa, sekaligus khawatir dengan kecemburuan yang menggunung. Pecinta mana yang tak cemburu jika kekasihnya senantiasa dinanti dan dipuja oleh lelaki lain? Tuhanpun senantiasa melafdzkan nama Laila kekasihku dengan begitu mesra. Bahkan Laila selalu disebutnya lebih baik dari Nahar saudaranya,
“Bukankah malam senantiasa mendahului siang?”
Ungkap Tuhan padaku suatu malam di bulan ramadhan.
Membuatku nelangsa.

“Jangan bersedih begitu kekasihku, tidak cukupkah anugerah Tuhan dengan kerelaannya untuk berbagi kebahagiaan denganmu?” Rayu Lailaku dengan suara yang mendayu, selembut angin malam yang mendesir pelan di rimbun pokok bambu.
“Kebahagiaan apa!? Ini adalah siksa, Dia membakarku dengan api cemburu! Apa Dia tidak faham betapa dalam cintaku padamu!?” Jiwaku menggelora.
“Sssttttt….. jangan berisik cintaku, kau akan merusak kesunyian dan mengoyak kesenyapan yang menjadi hakekatku…”
“Tapi aku tidak bisa menerima perlakuan ini!”
“Fahamilah, aku bukan kekasihmu abadi, aku bukanlah seorang pecinta, aku hanya hadir untuk membuktikan cinta Tuhan padamu”.
“Apa!!? Tuhan mencintaiku? Lalu kenapa ingin merampas dirimu dariku kekasihku?” Aku makin tidak mengerti.
Laila terdiam dalam.
Hanya desah nafasnya yang terdengar samar.

“Sadarlah, Laila kekasihmu ini hadir dengan kesunyian yang senyap hanya untuk menujukkan bahwa Tuhan tidak penah meninggalkan dan membencimu”.
Aku hanya terdiam mendengar Laila Al Qadry berceloteh,
“Laila hanyalah washilah, kekasihmu ini cuma teman seperjalanan, bukan tempat berhenti, pun bukan tempat istirah dan lena. Hadirku yang demikian anggun dengan selimut gelap kelam ini adalah satu ayat bagimu agar kau mampu mencandra bahwa Tuhan adalah cahaya yang demikian benderang dan cerlang”.
Aku kian tergugu menyimak tuturnya,
“Hai jangan terdiam begitu dong…” Laila menguncang-guncangkan bahuku.
“Kau mau menegakkan shalat bersamaku malam ini kan? Ayo, kau harus bersuci, tak pantas seorang pecinta menemui kekasihnya dalam keadaan kotor”.

Laila menuntunku berdiri, aku berjalan terseok menuju pancuran di belakang rumah, langit cerah, bintang berkelip indah, namun gerimis menitis menerpa wajah. Aku berwudhu perlahan, lamat-lamat aku mendengar suara daras kalam suci melantunkan ayat terakhir ath thur, “wa mina llaili fasabbihhu wa idbaara nnujuum…Dan bertasbihlah kepadaNya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang”.

Kupungkas wudhu dalam gemetar, rasa bergetar, jiwa terasa lempang dan lapang, aku tersungkur bersujud. Tak sadar bibirku melafadz terbata, “Subhana lladzii asraa bi’abdihii laila…..”

Penulis adalah pendongeng di Cerita Tenri