PORNOGRAFI DAN KEBANGKUTAN SEKSUAL
Arief Gunawan SR
PORNOGRAFI adalah suatu fenomena yang selalu memiliki sisi kontroversial. Dibenci sekaligus dicari. Ia ditemukan dimana saja, di sekitar kita, mulai dari koran, majalah, tabloid, televisi, papan iklan, baliho, kalender, sampai internet. Sisi kontroversial pornografi kembali dipolemikkan ketika majalah ‘Playboy’ edisi Indonesia rencana akan diterbitkan secara perdana. Mungkinkah ini merupakan titik klimaks dari proses evolusi tanpa sadar membuncahnya bahan-bahan pornografi atau pengetahuan yang berkelebihan tentang seksualitas.
Secara tidak sadar kita adalah penggemar pornografi. Sebab tiap hari kita dijejali dengan penanda-penanda pornografi yang salah satunya dilesatkan oleh industri media yang berkolaborasi dengan kekuatan produksi. Ini adalah salah satu ciri dari perkembangan masyarakat postmodern, di mana seksualitas dijadikan sebagai dimensi utama pertukaran dalam masyarakat (konsumsi). Sehingga seksualitas hadir sebagai objek dan pesan-pesan yang dikomersialkan secara implisit bahkan eksplisit.
Sebenarnya apa definisi dan tujuan pornografi? Dan mengapa sesuatu dikatakan porno? Dari pihak antipornografi dan sebagian pihak propornografi menganggap bahwa tujuan pornografi adalah “untuk melakukan stimulasi atau dorongan seksual yang diikuti oleh pelepasan seksual”. Lalu kwalitas apa yang dimiliki oleh suatu objek atau pesan yang dianggap porno mampu menimbulkan dorongan seksual? Kita tahu, dalam konteks masyarakat tertentu beberapa bagian tubuh yang dianggap porno berbeda dengan pandangan masyarakat lainnya yang justru menganggapnya porno. Maka terjadilah pro dan kontra tentang batas-batas pornografi.
Wacana pornografi sebenarnya memiliki ruang lingkup kajian teoritik yang cukup rumit. Tentang beberapa peristilahan yang kabur dan sering tumpang tindih seperti erotika, kecabulan, seks, nafsu/hasrat, libido, rangsangan, berahi dan porno atau cabul. Sehingga esai pendek ini tidak mungkin mengupas secara mendetail luasnya wacana pornografi. Aksentuasi tulisan ini hanya diarahkan pada: pertama, mengungkap bagaimana strategi erotisasi dalam pornografi, kedua, efek sosiologis yang ditimbulkan pornografi, dan ketiga masa depan seksualitas manusia di tengah gempuran pornografi.
Membicarakan pornografi memang tidak bisa dilepaskan dari dua hal yakni seksualitas dan tubuh. Keduanya terjalin dalam pemaknaan yang saling mengisi. Seksualitas tidak mungkin lepas dari tubuh atau sebaliknya tubuh akan selalu dilihat sebagai identitas seksual, pria dan wanita.
Ada satu hal yang cukup dipermasalahkan dalam pornografi (seperti yang dituduhkan oleh kaum wanita atau aktivis feminis dan masyarakat umum) bahwa materi atau bahan pornografi lebih banyak ditujukan untuk konsumsi pria. Dan posisi wanita tentu saja lebih dominan dalam bahan-bahan pornografi, sehingga wanita selalu dipandang sebagai objek seks semata. Di sinilah mengapa tubuh wanita perlu dianalisis mengenai batas dan kwalitas yang dikandungnya.
Erotisme dan Tubuh
Tak banyak yang tahu mengapa tubuh wanita bisa begitu erotis, merangsang dan menggoda. Ada suatu keanehan di dalamnya. Yang mereka (baca:laki-laki) tahu, godaan itu seperti magnet yang akan manarik siapa saja yang mendekat. Jadi, dalam mekanisme godaan ada tarikan yang lebih kuat dari penggoda kepada yang digoda. Magnet penggoda adalah nilai erotik atau rangsangan yang dikandungnya. Bahkan, pandangan di atas bisa terbalik, bahwa ternyata tidak ada erotika dalam tubuh wanita. Benarkah?
Ada dua contoh kevulgaran tubuh yang bisa kita identifikasi memiliki dimensi erotik yang berbeda. Yang pertama foto nude (pornografi) Tiara Lestari pada sampul majalah Playboy terbitan Spanyol secara eksplisit, dan kedua foto beberapa wanita suku Dani (salah satu suku di pedalaman Papua) yang ditampilkan tanpa memakai penutup dada di koran Kompas (18 Des 2005). Penilaian terhadap kedua bentuk ekspresi tubuh tersebut kemudian terkonstruksi secara sosial sebagai penanda-penanda erotik dan non erotik.
Eksplisitnya ‘buah dada’ Tiara Lestari di majalah Playboy terkonstruksi secara seksual dan pornografis karena itu dipermasalahkan oleh latar belakang alasan normatif ketimuran, dan dibentuk oleh media yang di-stereotipe-kan sebagai media pornografi. Sedangkan foto telanjang wanita suku Dani tidak dianggap sebagai materi pornografi mungkin dengan alasan karena ‘mereka lebih dekat dengan alam’ atau belum ter-seksualisasi dan ter-erotiskan.
Nah, pada sisi ini, strategi erotisasi tubuh terjadi melalui dua tipologi yang saling berkaitan: pertama, seperti yang diungkap oleh Sigmund Freud bahwa “tubuh yang tertutup yang menuruti tuntutan peradaban masyarakat akan selalu mengundang keingintahuan seksual dan berfungsi sebagai daya tarik objek seksual dan berfungsi sebagai suplemen daya tarik seksual melalui tindak penyingkapan bagian-bagian tersembunyi”, dan. Kedua, bahwa erotisasi dibentuk melalui proses penciptaan diskursus atau wacana yang membentuk makna dan pandangan seksualitas. Di sini ‘kuasa’ bekerja membentuk prosedur larangan dan hukuman, mana yang cabul/porno atau tidak.
Dari kedua bentuk tipologi di atas, secara umum dianggap bahwa strategi perangsangan pada materi pornografi terjadi pada bagian tubuh yang dianggap sebagai zona erotik atau wilayah yang merangsang dan terlarang. Dan kita perlu memandang bahwa pornografi tidak hanya berisi materi yang mempertontonkan secara eksplisit (vulgar) bagian dari zona terlarang tubuh, tetapi juga materi implisit yang mengekploitasi nilai erotisme bagian tubuh lainnya seperti wajah, paha, perut, pinggang, ataupun tangan untuk konsumsi massal.
Kematian Tabu dan Masa Depan Seksualitas
Dalam tabu, ada prosedur larangan untuk menjaga kesucian dan pelanggaran atasnya akan berbuah dosa. Sebagai tabu, seksualitas selalu dimuati oleh makna kesakralan. Dan tubuh dalam etika religius (seperti dalam agama Islam) adalah tubuh yang dibingkai larangan ini dan itu. Di mana pada bagian tubuh tertentu ditabukan dan dianggap sebagai ‘aurat’. Dengan kata lain aurat adalah suatu strategi penyingkapan dan penyembunyian tubuh. Tubuh yang dimuati larangan.
Jika dihubungkan dengan analisa Freud, tabu jelas merupakan sebuah strategi erotisasi tubuh yang dipelihara dalam ruang intim dan privat. Tapi kini, tabu mulai disingkirkan secara perlahan oleh ‘kekuatan produksi dan konsumsi’ dan mengalami kebangkrutan ‘makna’. Sedikit demi sedikit tabu makin tergeser dalam limit (batas) paling minimalis dari tubuh. Bahkan yang tersisa (baca: sebagai aurat) hanyalah alat genetalia dan buah dada pada wanita.
Berbeda dengan tabu, kekuatan pornografi yang tidak mengenal aurat justru mengeksplorasi bagian-bagian tubuh tertentu tanpa batas. Selalu berusaha menciptakan dimensi-dimensi baru seksualitas manusia dalam bentuk pose atau gaya dan teknik pengambilan gambar. Sehingga eksplorasi tanpa henti bagian tubuh justru berpotensi besar menumpulkan dimensi seksualitas manusia. Ke-erotikan tubuh makin kabur dan seksualitas mengalami kebangkrutan makna. Mungkin suatu saat ketelanjangan tidak dipermasalahkan dan kecabulan tidak ada lagi di rimba raya peradaban modern.
Penutup: Fashion dan Pornografi
Pornografi adalah suatu fantasi nyata. Yang mencairkan kebekuan realitas nyata dan imajinasi. Salah satu bentuk representasi pornografi ditemukan dalam kenyataan ‘fashion’. Di mana kecantikan funsional dalam fashion tidak lain dari erotisme tubuh yang dijual. Yang dipelihara fashion terutama fungsi seduktif (godaan) tubuh dan narsisisme wanita.
Titik persamaan antara fashion dan pornografi terletak pada dimensi erotisme yang mereka jual. Bahkan ada kekaburan batas antar keduanya. Yang kita tahu, fashion tidak ingin jatuh ke dalam pendefinisian cabul dan seronok seperti pornografi. Tetapi keduanya memiliki fungsi seduktif, sehingga kenyataan fashion dengan erotisme dan kecantikan yang dijual adalah simulasi nyata dari tindakan pornografi (pornoaksi).Pandangan masyarakat tentang masa depan pornografi dan seksualitas mungkin bisa diramalkan dengan tepat di tengah realitas serbuan kebudayaan postmodern. Akan sampai pada situasi nihilis yang siap meluluhlantakkan tatanan moral. Sekarang semuanya tergantung pada tiap individu untuk bersikap pro atau kontra dalam diskursus ini. Terakhir, kita perlu akui bahwa, pornografi itu ada, di sekitar kita, dan anak-anak kita sedang diajari menjadi penggemar pornografi. Sadar atau tidak.